Dampak Karhutla Di Barito Selatan Direktur RSUD Jaraga Sasameh Soroti Peningkatan Titik Panas
Barito Selatan // Sorotakurat.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kabupaten Barito Selatan menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama terkait dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jaraga Sasameh Kabupaten Barito Selatan, dr. Dadang Baskoro Nogroho, Sp.PD, FINASIM., saat berlangsungnya kegiatan press release di Aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan, Jumat (16/10/2026).
Dalam keterangannya, dr. Dadang menyampaikan bahwa berdasarkan data BPBD, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Barito Selatan mengalami peningkatan signifikan selama Agustus hingga September 2026. Ia menyebutkan, pada Agustus tercatat sebanyak 2.398 titik panas, kemudian meningkat menjadi 4.965 titik panas pada September. Data tersebut menunjukkan peningkatan yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pihak.
Menurutnya, peningkatan titik panas tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan asap akibat karhutla dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Dr. Dadang menjelaskan bahwa penyampaian informasi mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan merupakan bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut mencerminkan perhatian dan keprihatinan Bupati Barito Selatan beserta Wakil Bupati terhadap kondisi karhutla dan dampak kabut asap yang terjadi di daerah tersebut.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa pelayanan kesehatan di Kabupaten Barito Selatan didukung oleh 12 puskesmas dan satu rumah sakit. Fasilitas kesehatan tersebut memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik melalui upaya pencegahan maupun penanganan medis terhadap warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Menurut dr. Dadang, puskesmas memiliki peran utama dalam kegiatan promotif dan preventif, yakni meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan sekaligus melakukan upaya pencegahan penyakit. Sementara itu, rumah sakit lebih berfokus pada pelayanan kuratif atau pengobatan bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis. Kedua jenis fasilitas kesehatan tersebut diharapkan dapat saling mendukung dalam menghadapi risiko kesehatan akibat karhutla.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan kabut asap, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk, serta menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di lingkungan berasap. Warga juga diharapkan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, iritasi mata, atau gangguan kesehatan lainnya.
Melalui kegiatan press release tersebut, diharapkan informasi mengenai perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan dapat dipahami masyarakat secara lebih luas. Sinergi antara pemerintah daerah, BPBD, rumah sakit, puskesmas, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kesehatan akibat kabut asap serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla di Kabupaten Barito Selatan. (Gun).
